1 Feb 2012

beranilah


berani jatuh cinta dan mencintai, 
maka beranilah untuk terluka
berani mencurangi, 
maka beranilah untuk diadili


26 Jan 2012

Kekonyolan Cinta(?)

Jatuh cinta itu indah, begitu kata orang-orang. Jatuh cinta membuat kita awet muda, kata orang-orang yang lain. Jatuh cinta itu seperti pelangi yang menghiasi langit seusai hujan.

Tidak, saya tidak sedang jatuh cinta. Saya sedang rindu jatuh cinta, lebih tepatnya. Konyol? Ahh..tidak ada yang konyol untuk hal yang satu ini. Bukankah orang-orang rela menjadi konyol bahkan hampir gila ketika jatuh cinta?

Dulu, sewaktu saya masih duduk di sekolah menengah pertama, saya naksir kakak kelas. Saya kelas satu dan dia kelas dua. Setiap hari, saya sengaja lewat di depan kelasnya. Karena kebetulan, kelasnya terletak sebelum kelas saya. Saat itu saya hanya berani curi-curi pandang, sampai tiba hari ulang tahunnya (jangan tanya kapan, karena saya sudah lupa) saya memberanikan diri buat menghubungi nomor rumahnya. Dengan hati berdebar-debar saya pun memencet nomor pemberian teman si kakak kelas lewat teman saya. Sial, pembantu rumah tangganya-lah yang mengangkat telepon. Setelah kejadian itu, saya pun enggan (atau lebih tepatnya, malu) hingga kemudian "berpindah hati".

Beranjak (sedikit)lebih dewasa, saya terkesan dengan seorang kakak kelas yang rela memberikan sendok miliknya kepada saya supaya dapat memakan buah yang berada di dalam es buah. Sedangkan ia malah memakan nasi kotak miliknya dengan tangan. Lelaki ini terlihat pendiam dan agak misterius tapi cerdas, begitu anggapan saya ketika pertama kali melihatnya. Namun, setelah mengenalnya semua anggapan saya itu salah. Menyesal? Tidak. Ternyata ia penuh dengan kejutan, sedikit gila, dan keras kepala seperti saya.

Saya masih ingat kejutan pertama yang ia berikan kepada saya. Malam itu dia datang sendirian ke rumah saya, padahal saya tidak penah memberikan alamat rumah saya kepadanya. Atau di lain waktu, ketika saya study tour dan belum menyiapkan bekal, tiba-tiba pagi hari sebelum bus berangkat dia sudah ada di sekolah dan membawa satu kantong penuh makanan kecil.

Setiap hari, saya melewati kelasnya dan mencuri-curi waktu untuk sekedar bisa melewati kelasnya. Entah mengumpulkan tugas teman sekelas ke ruang guru, ijin ke ruang BP atau jajan di kantin sebelah kelasnya. Saya juga rela bangun subuh-subuh demi membawa makanan untuknya.
Apapun itu, saya rindu..sangat rindu jatuh cinta.. Mungkin nanti, ketika saya jatuh cinta saya jadi lebih waras atau malah lebih konyol dan lebih gila.

11 Jan 2012

tersesat?

maaf..
aku tak bisa lagi pulang ke rumah
seberapa kuat pun keinginanku

dulu..
aku menunggumu
selalu menunggumu pulang

berharap kamu yang tersesat kala itu
menemukan jalan pulang

aku menunggu
selalu menunggumu
hingga habis asaku

lalu aku memutuskan untuk pergi
dan meletakkan kunci rumah kita
yang entah dimana sekarang

aku ingin pulang
tapi di setiap jalanku menuju rumah
selalu ada yang menghalangiku

percayalah..
sesungguhnya aku pun ingin pulang
kembali membangun rumah kita yang tlah dihantam badai

namun..
aku tak mampu
langkah kakiku menuntunku menuju jalan lain

030112

27 Des 2011

Menggenggam Kedekatan



Teknologi menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh.

Kalimat tersebut pernah saya dengar dari seorang teman. Waktu itu kami sedang berkumpul membicarakan hal remeh temeh sampai ketika saya, dia dan satu lagi teman saya memegang telepon genggam milik masing-masing. Hening sesaat, hanya terdengar ketukan jari pada layar dan tombol seluler. Sampai kemudian salah seorang dari kami spontan berkata, "Teknologi menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh".

Secara tidak sadar, kami pun meletakkan benda seukuran genggaman tangan tersebut. Obrolan pun berlanjut. Lalu hening sebentar saat kami kehabisan bahan pembicaraan. Lalu, ketukan jari pada layar dan tombol seluler kembali terdengar.

Dan beberapa hari yang lalu, saya dan saudara perempuan saya makan malam di sebuah rumah makan yang berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Di sela-sela obrolan sembari menunggu pesanan kami datang, saya mendengar suara latar musik permainan burung pemarah, Angry Bird.

Rupanya suara tersebut berasal dari meja sebelah kanan kami. Sejenak saya mengamati ketiga penghuni meja tersebut yang menurut saya ialah sebuah keluarga kecil. Seorang ibu yang sedang berkutat dengan ponsel pintarnya, seorang ayah yang juga tengah serius memandangi telepon genggamnya, dan tentu saja sang anak yang larut dalam permainan.

Ironis. Mereka berada di meja yang sama, di tempat yang sama, namun pikiran mereka tidak berada di tempat yang sama. Masing-masing sibuk dengan dunia maya dalam genggaman tangan mereka.

Tiba-tiba saya teringat, saya pernah membaca sebuah artikel di sebuah majalah online asal ibukota. Isinya kurang lebih sama dengan apa yang saya ceritakan di atas. Bahwa, teknologi tidak hanya berdampak baik bagi penggunanya tapi juga berpengaruh kurang baik (kalau tidak boleh disebut buruk).

Pikiran saya melayang. Mencoba mengingat-ingat, apakah saya juga melakukan hal yang sama dengan sebuah keluarga kecil di atas. Mungkin saat bersama teman-teman dan sahabat saya, atau malah sama persis dengan keluarga tersebut.

Setiap saat rajin melirik bahkan melongok ke layar ponsel sambil memasang telinga, kalau-kalau terdengar nada pemberitahuan. Entah berasal dari email, percakapan instan, atau jejaring sosial. Obrolan yang seharusnya bisa lebih mendekatkan hubungan pertemanan pun menjadi terganggu karena perhatian kita terbelah. Antara menyimak obrolan atau menciptakan obrolan sendiri di dunia maya.

16 Nov 2011

Just Waiting for You, babe



..I don't know where you're going
or when you're coming home
just get your ass back home..

16 Okt 2011

...

seperti satu jiwa yang terpisah
saling terkait satu sama lain

seperti kebetulan
iringan tak terencana

seperti telepati
saling terhubung tanpa wujud